Mengatasi Sembelit pada Kucing.
Pernah ngalamin kucing kesayangannya sembelit? susah pup? atau pupnya keras? Normalnya, setiap hari kucing akan mengeluarkan kotorannya sebagai tanda metabolisme tubuh yang berjalan dengan baik. Namun, ada kalanya kucing mengalami juga gangguan pada tubuhnya, salah satunya adalah konstipasi atau sembelit. Konstipasi pada kucing tentunya membuat kucing tidak
nyaman, terkadang kita baru menyadari setelah kucing sangat lemas dan nafsu makannya
menurun.
Konstipasi pada kucing dapat dilihat
dari perubahan perilaku saat BAB (pup). Jika mengalami
konstipasi tidak akan terlihat adanya pup (kotoran) pada litterbox
(kotak pasir). Sehingga kegiatan melihat dan
membersihkan litterbox kucing setiap hari menjadi sangat penting agar dapat mengetahui rutinitas dan kondisi pup kucing. Kucing
malas dan kesakitan saat pup seperti mengejan berlebihan atau pup susah/tidak keluar
kemungkinan salah satu ciri mengalam konstipasi.
Mengapa kucing bisa mengalami konstipasi?
Konstipasi atau sembelit bukan merupakan penyakit, tapi gejala dari beberapa penyakit atau kondisi tidak normal yang mempengaruhi saluran pencernaan kucing.
Berikut 6 Penyebab sembelit pada kucing
1.Nutrisi
Seperti halnya manusia, Kucing juga perlu diperhatikan nutrisinya. Ketidakseimbangan
nutrisi, bisa juga menyebabkan gangguan di saluran pencernaan, salah satunya konstipasi .
Kurang konsumsi serat bisa menjadi salah satu
penyebab sembelit. Serat tidak hanya berasal dari sayuran
tetapi juga ada di ikan, ayam, daging, kacang-kacangan dan sumber karbohidrat (dengan
jenis dan jumlah tertentu) yang biasa terdapat dalam kandungan makanan kucing.
Selain menghasilkan energi, serat juga bisa membantu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan.
Fungsi serat sangat penting untuk
meningkatkan fungsi saluran cerna, sehingga usus bisa melakukan tugasnya dengan baik, merangsang kerja bakteri baik, sehingga
asupan nutrisi pun bisa terserap dengan baik.
Tapi, perlu diperhatikan juga pemberian serat ini tidak boleh
berlebihan, perlu diimbangi dengan konsumsi air dan nutrisi lainnya.
Konsumsi rumput untuk kucing juga bisa menambah asupan serat.
Cairan yang dikonsumsi anjing maupun kucing bisa berasal dari air minum,
makanan terutama makanan basah (wetfood). Konsumsi makanan kering tapi
tidak diimbangi dengan pemberian minum yang cukup bisa menyebabkan feses jadi keras, sehingga sulit dikeluarkan dan menyebabkan sembelit.
Lalu berapa banyak air minum yang dibutuhkan kucing perhari? Kucing membutuhkan asupan cairan minimal 60 ml per kilogram berat badannya perhari dalam kondisi cuaca normal. Tentunya kebutuhan minumnya akan meningkat disaat cuaca sedang panas atau saat sedang aktif bermain.
2. Stres dan gangguan psikis
Bukan cuma kita, para hooman yang bisa stress, kucing juga bisa lho mengalami stress, biasanya ditunjukkan dengan adanya perubahan aktifitas atau kebiasaannya.
Beberapa penyebabnya yaitu :
> Perubahan lingkungan
Saat pindah rumah dan kucing berada pada lingkungan baru, biasanya mereka akan
memulai proses penyesuaian dulu. Saat proses penyesuaian berlangsung,
biasanya metabolisme tubuh akan berpengaruh. Bentuk dari pengaruh
tersebut bermacam-macam seperti diare atau konstipasi.
> Perubahan kebiasaan
Misalnya letak kotak pasir yang
dipindahkan oleh pemilik atau lokasi tempat hewan biasa pup, dirubah.
Hewan akan kebingungan mencari lokasi pup dan pada akhirnya akan
ditahan. Saat kotoran ditahan dan menumpuk, lama kelamaan akan mengeras
dan terjadi konstipasi
3. Infeksi dan kelainan tubuh bagian belakang
Infeksi atau peradangan di saluran
pencernaan misalnya infeksi di saluran
kencing, infeksi pada rahim, abses pada anal dapat menyebabkan konstipasi.
Jika kucing mengalami sakit pada
bagian belakang akibat tertabrak atau cedera yang menyebabkan tulang
panggul patah, gangguan otot dan syaraf yang menyebabkan inervasi
syaraf ke otot spyncter rektum terganggu jadi tidak bisa mengeluarkan feses.
4. Sumbatan di usus
Usus bisa mengalami sumbatan akhirnya feses tidak bisa dikeluarkan,
dikarenakan kelainan anatomi sejak lahir, atau atau bisa juga sumbatan
di usus karena adanya tumor.
5. Hairball / bullu mati yang menyumbat saluran cerna
Kucing akan
menjilati bulunya yang rontok saat grooming dan tertelan (hairball). Terkadang
hairball tidak dimuntahkan dan atau dikeluarkan bersamaan dengan kotoran. Jika
jumlah hairball terlalu banyak, maka akan menyebabkan sembelit.
6. Memakan benda asing
Kucing yang senang
bermain diluar atau yang bertipe outdoor, terkadang penasaran dengan
benda yang dilihatnya dan mencoba memakannya. Jika benda tersebut
terlalu besar maka akan menghambat saluran cerna dan menjadi sembelit.
Lalu, apa yang harus kita perhatikan untuk mengetahui apakah kucing kita terkena konstipasi / sembelit ?
1.Frekuensi buang air besar.
Kucing normalnya membuang kotoran 2-3 kali sehari (setiap hari).
Jika frekuensinya berkurang atau tidak membuang kotoran sama sekali dalam sehari, sudah dapat dikategorikan terserang sembelit.
2. Lama proses defekasi (buang kotoran)
Misalnya saat kucing menuju kotak pasir untuk pup, perhatikan berapa lama kucing disana sebelum akhirnya fesesnya keluar.
Saat kucing sembelit, mereka akan kesulitan mengeluarkan kotoran yang
menumpuk dan mengeras jadi akan sakit saat mengeluarkannya sehingga akan
lama prosesnya.
3. Perhatikan ada luka atau tidak di anus
Saat sembelit, kotoran mengeras, kadang akan menyebabkan luka lecet pada lubang anus.
Periksa anus hewan saat selesai pup, selain kesakitan biasanya pantatnya akan berwarna kemerahan kadang disertai darah keluar bersama dengan pup.
Perlu diperhatikan juga kemungkinan keluarnya bagian anus (prolapsus) karena mengejan terlalu hebat.
Kucing yang mengalami konstipasi sebaiknya segera
diperiksakan ke dokter hewan. Terlalu lama kotoran tidak keluar dari tubuh
akan menyebabkan tidak nyaman, juga menyebabkan kondisi yang serius
dikemudian hari seperti adanya penonjolan anus, maupun megacolon
(pembesaran colon/usus besar).
Jika sembelit baru terjadi 1-2 hari, kita bisa
melakukan 7 treatment untuk mengatasi sembelit pada kucing, yaitu :
1.Berikan makanan yang basah
Makanan basah akan meningkatkan konsumsi cairan, diharapkan dengan
konsumsi cairan yang meningkat akan menyebabkan feses menjadi lebih
lembut sehingga mudah melewati anus.
2. Lap anus dengan air hangat
Ini bisa dilakukan pada kucing usia muda maupun kitten,
untuk menstimulasi kerja otot sekitar anus sehingga kotoran bisa keluar.
Jika kitten hanya konsumsi susu saja (kurang dari 1 bulan)
biasanya sangat mungkin tidak buang kotoran selama 2 hari karena
nutrisi terserap. Namun tetap perlu dilakukan rangsangan untuk
mengeluarkan kotorannya.
Sembelit juga mungkin terjadi pada kucing yang
mengalami pengalihan makanan dari makanan lembut ke tekstur yang keras.
Lap anus dengan air hangat pun sangat membantu jika ada luka atau lecet di anus.
3. Sediakan air minum yang bersih dan cukup setiap hari nya.
4. Beri minyak zaitun atau VCO.
Minyak zaitun maupun VCO merupakan minyak alami yang aman untuk manusia, begitu juga untuk kucing.
Pemberian minyak zaitun atau VCO pada anus bisa berfungsi sebagai
pelumas, diharapkan bisa melunakkan feses dan tidak nyeri saat pup.
Selain diberikan pada anus, bisa juga diberikan dengan mencampurkan
makanan atau diberikan langsung pada kucing melalui mulut.
5. Berikan tambahan serat
Salah satu penyebab sembelit adalah kurang nya serat, jadi saluran
pencernaan tidak bekerja dengan baik. sebaiknya dibuatkan juga snack yang mengandung serat. Tapi proporsinya tidak
terlalu banyak, bisa gunakan labu kuning atau oat.
Apakah boleh memberikan obat pencahar untuk kucing ?
Obat pencahar yang ada saat ini untuk manusia, berupa tablet, sirup,
maupun laxative enema. Untuk kucing sebaiknya
pemberianya dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter hewan.
Dikhawatirkan ada kondisi lainnya yang perlu perhatian khusus selain
sembelit.
Jadi, selalu konsultasikan kondisi kucing jika terlihat
mengalami gangguan pencernaan. Kita juga perlu turut serta membersihkan Litterbox
setiap hari ataupun berinteraksi dengan kucing untuk
mengetahui perubahan yang terjadi pada kucing peliharaan kita. (Kieka)
Kucing juga ternyata butuh perawatan yak ?
BalasHapus